70 YEARS OF BANDUNG SPIRIT: RECLAIMING SOEKARNO’S DREAM TO BUILD THE WORLD ANEW
Bandung–Surabaya–Blitar–Yogyakarta, October–November 2025
“We do not seek to defend the world we know: we seek to build a new, a better world!”
(President Sukarno, Address to the UN General Assembly, 1960)
Bandung Spirit at 70: From History to the Future of Humanity
Seventy years after the historic Asian–African Conference of 1955, the Bandung Spirit continues to illuminate global dialogues on justice, peace, and cooperation.
What began as a declaration of independence and solidarity among the oppressed nations has now evolved into a living moral compass for the twenty-first century — a call to rebuild a fairer, safer, and more conscious world.
As UNESCO has inscribed the archives of the Bandung Conference (1955), Sukarno’s UN Speech (1960), and the Non-Aligned Movement Summit in Belgrade (1961) into its Memory of the World, these milestones are no longer just history — they are mandates for the future.
The Essence of Bandung: Principles, Spirit, and Dream
The Ten Bandung Principles (Dasasila Bandung) remain the ethical foundation for peaceful coexistence: mutual respect, equality, non-interference, and cooperation.
The Spirit of Bandung (Bandung Spirit) embodies five aspirations — Peace, Independence, Equality, Solidarity, and Emancipation.
From these values arises the Dream of Bandung — a vision of Sustainable Global Prosperity grounded in Peace, Justice, Cooperation, Solidarity, and Diversity.
This moral foundation has created the Bandung Constellation, groups of countries and institutions affiliated to the Bandung Spirit, such as the Non-Aligned Movement (NAM), African Union (AU), UNCTAD, G77, ASEAN, FOCAC, TICAD, SCO, and now BRICS+, which collectively carry the Bandung legacy into the evolving multipolar world.
New Challenges and Opportunities in a Fragmented World
Seventy years after Bandung, the world again faces a critical crossroad.
Wars, climate crisis, digital hegemony, and economic inequality are testing the ideals of the Bandung founders.
The nations of the “Bandung Constellation” — the moral heirs of 1955 — now face five modern instruments of domination:
1. Control over science and technology
2. Control over information and media
3. Control over global financial systems
4. Control over military technology and WMDs
5. Control over natural resources
Yet within these challenges lies opportunity: the Rise of Asia.
The Rise of Asia: From Periphery to Powerhouse
In 1970, Asia was the poorest continent. By 2016, its share of global GDP rose from less than 10% to 30%, and its per capita income began converging toward the global average.
By 2050, according to PwC projections, seven of the world’s ten largest economies will belong to countries once gathered under the Bandung umbrella — China, India, Indonesia, Japan, Brazil, Russia, and Mexico.
Asia’s rise is not only economic. It is scientific, technological, and geopolitical. Asian nations have advanced in AI, renewable energy, space, and defense innovation.
The BRICS economies now collectively surpass the G7, signaling the end of unipolar dominance and the emergence of a polycentric world order.
Bandung at 70: Conference and Commemoration
To reflect on these transformations, the 70th Anniversary Conference of the Asian–African Conference (Bandung 1955) will be held under the theme:
“Bandung at 70: Challenges and Opportunities to Build the World Anew”.
🟤 Bandung/Jatinangor (October 28–29, 2025) — hosted by Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN)
🟤 Surabaya (October 30–31, 2025) — hosted by Postgraduate School, Airlangga University
🟤 Blitar (November 1, 2025) — Pilgrimage to Sukarno’s Tomb and Seminar on Sukarno’s Global Legacy
🟤 Yogyakarta (November 2–5, 2025) — Festival of Cultural Diversity, hosted by Institut Seni Indonesia Yogyakarta, celebrating Asia–Africa–BRICS heritage.
Participants and Global Reach
The conference gathers over 50 international scholars and policymakers from 32 countries across Africa, Asia, Europe, and the Americas — reflecting the renewed Bandung constellation.
They will explore whether the Rise of Asia represents:
a replica of Western expansionism,
or
a renaissance of ethical and cooperative civilization —
a new opportunity to “build the world anew,” as Soekarno envisioned at the United Nations in 1960.
Closing Message
“The Bandung Spirit is not nostalgia; it is a living consciousness. It reminds humanity that justice and peace are not inherited — they must be rebuilt with wisdom”
— Prof. Connie Rahakundini Bakrie
Contact & Media Inquiries:
Website: https://bandungspirit.org/
Bandung+70 Secretariat: secretariat-bandung70@e-group.bandungspirit.org
Press Liaison: ???
SIARAN PERS
70 TAHUN SEMANGAT BANDUNG: MENGHIDUPKAN KEMBALI MIMPI SOEKARNO UNTUK MEMBANGUN DUNIA YANG BARU
Bandung–Surabaya–Blitar–Yogyakarta, Oktober–November 2025
“Kita tidak berusaha mempertahankan dunia yang kita kenal — kita berusaha membangun dunia yang baru.”
(Presiden Soekarno, Pidato di Majelis Umum PBB, 1960)
Semangat Bandung di Usia 70: Dari Sejarah Menuju Masa Depan Kemanusiaan
Tujuh puluh tahun setelah Konferensi Asia–Afrika bersejarah tahun 1955, Semangat Bandung terus menerangi dialog global tentang keadilan, perdamaian, dan kerja sama.
Apa yang bermula sebagai deklarasi kemerdekaan dan solidaritas bangsa-bangsa tertindas kini telah berevolusi menjadi kompas moral hidup bagi abad ke-21 — seruan untuk membangun kembali dunia yang lebih adil, aman, dan sadar.
Ketika UNESCO menetapkan arsip Konferensi Bandung (1955), Pidato Soekarno di PBB (1960), dan KTT Gerakan Non-Blok di Beograd (1961) ke dalam Memory of the World, ketiga tonggak ini bukan lagi sekadar sejarah — melainkan mandat untuk masa depan.
Hakikat Bandung: Prinsip, Semangat, dan Mimpi
Sepuluh Prinsip Bandung (Dasasila Bandung) tetap menjadi landasan etika bagi hidup berdampingan secara damai: saling menghormati, kesetaraan, tidak saling mencampuri urusan dalam negeri, dan kerja sama.
Sementara itu, Semangat Bandung mencerminkan lima cita-cita luhur — Perdamaian, Kemerdekaan, Kesetaraan, Solidaritas, dan Emansipasi.
Dari nilai-nilai inilah lahir Mimpi Bandung — sebuah visi tentang Kemakmuran Global Berkelanjutan yang berakar pada Perdamaian, Keadilan, Kerja Sama, Solidaritas, dan Keberagaman.
Landasan moral ini membentuk Konstelasi Bandung yakni kumpulan negara-negara dan lembaga-lembaga yang mengacu kepada Semangat Bandung, seperti Gerakan Non-Blok (GNB), Uni Afrika (AU), UNCTAD, G77, ASEAN, FOCAC, TICAD, SCO, hingga BRICS+, yang bersama-sama meneruskan warisan Bandung ke dalam tatanan dunia multipolar yang tengah berkembang.
Tantangan dan Peluang Baru di Dunia yang Terfragmentasi
Tujuh puluh tahun setelah Bandung, dunia kembali berada di persimpangan kritis.
Perang, krisis iklim, hegemoni digital, dan ketimpangan ekonomi kini menguji idealisme para pendiri Bandung.
Bangsa-bangsa dalam “Konstelasi Bandung” — para pewaris moral tahun 1955 — kini menghadapi lima instrumen dominasi modern:
1. Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi
2. Penguasaan informasi dan media
3. Penguasaan sistem keuangan global
4. Penguasaan teknologi militer dan senjata pemusnah massal
5. Penguasaan sumber daya alam
Namun di balik tantangan tersebut, tersimpan peluang besar: Kebangkitan Asia.
Kebangkitan Asia: Dari Pinggiran Menjadi Pusat Kekuatan
Pada tahun 1970, Asia adalah benua termiskin di dunia. Namun pada 2016, kontribusinya terhadap PDB global meningkat dari kurang dari 10% menjadi 30%, dan pendapatan per kapitanya mulai mendekati rata-rata dunia.
Menurut proyeksi PwC, pada tahun 2050 tujuh dari sepuluh ekonomi terbesar dunia akan berasal dari negara-negara yang berhaluan Semangat Bandung — Tiongkok, India, Indonesia, Jepang, Brasil, Rusia, dan Meksiko.
Kebangkitan Asia bukan hanya ekonomi, tetapi juga ilmiah, teknologi, dan geopolitik. Negara-negara Asia telah maju dalam bidang AI, energi terbarukan, antariksa, dan inovasi pertahanan.
Ekonomi BRICS kini secara kolektif melampaui G7, menandai berakhirnya dominasi unipolar dan lahirnya tatanan dunia polycentric (berpusat majemuk).
Bandung ke-70: Konferensi dan Peringatan
Untuk merefleksikan transformasi ini, Konferensi Peringatan 70 Tahun Konferensi Asia–Afrika (Bandung 1955) akan diselenggarakan dengan tema:
“Bandung 70: Tantangan dan Peluang untuk Membangun Dunia Kembali.”
🟤 Bandung/Jatinangor (28–29 Oktober 2025) — diselenggarakan oleh Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN)
🟤 Surabaya (30–31 Oktober 2025) — diselenggarakan oleh Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga
🟤 Blitar (1 November 2025) — Ziarah ke Makam Bung Karno dan Seminar “Warisan Global Soekarno”
🟤 Yogyakarta (2–5 November 2025) — Festival Keberagaman Budaya, diselenggarakan bersama Institut Seni Indonesia Yogyakarta, merayakan keberagaman budaya bersemangat Bandung
Peserta dan Jangkauan Global
Konferensi ini akan menghadirkan lebih dari 50 cendekiawan dan pembuat kebijakan dari 32 negara di Afrika, Asia, Eropa, dan Amerika — merepresentasikan Konstelasi Bandung yang diperbarui.
Mereka akan mendiskusikan apakah Kebangkitan Asia merupakan:
— replikasi ekspansionisme Barat, atau
— kebangkitan kembali peradaban etis dan kooperatif
sebuah peluang baru untuk “membangun dunia yang baru,” sebagaimana diimpikan Soekarno di PBB tahun 1960.
Pesan Penutup
“Semangat Bandung bukanlah nostalgia; ia adalah kesadaran yang hidup.
Ia mengingatkan umat manusia bahwa keadilan dan perdamaian tidak diwariskan — keduanya harus dibangun kembali dengan kebijaksanaan.” (Prof. Connie Rahakundini Bakrie)
Kontak & Informasi Media
Situs sumber informasi: https://bandungspirit.org/
Sekretariat Bandung+70: secretariat-bandung70@e-group.bandungspirit.org
Kontak Pers: ???
